17 Oktober 2012

Dimana aku kini, kemana aku nanti?

Kini ku di persimpangan
Terhenti untuk sejenak berfikir
Keputusan tak semudah bicara
Lidahmu seirama hatimu

Penjalananku masih sangat panjang
Apa yang kan kutemukan nanti
Pada siapa aku bertemu
Mampukah kumenghadapinya

Ah....kenapa kupikirkan itu
Semua hanya imajiku
Semua hanya karna ketakutanku
Sadarku bukanlah pengidap phobia

Bangunlah !!
Siapkan mental pendirianmu
Kau bukan orang bodoh
Kau bukan seorang penakut

Kau bisa hadapi semua itu
Kau lebih siap dari mereka
Biarkan mereka menganggapmu apa
Teguhlah pada hati dan lidahmu

Saat kau temukan akhir perjalananmu nanti
Yakinlah, mereka akan tunduk kepadamu

Pondok Kehidupan, 14 Oktober 2012

::Se-SETIA Enggang::

Burung Enggang atau Rangkong adalah burung yang setia, Ia hanya mempunyai satu kekasih selama hidupnya. Tidak ada kata selingkuh dalam hidupnya ataupun poligami. Cintanya hanya untuk istrinya, sayangnya tidak akan dibagi dua.

Burung Enggang ni mempunyai satu kelebihan. Cara bertelurnya merupakan suatu daya tarik tersendiri. Pada awal masa bertelur burung jantan membuat luba
ng yang terletak tinggi pada batang pohon untuk tempat bersarang dan bertelurnya burung betina. Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina. kemudian burung jantan dengan setia memberi makan burung betinanya melalui sebuah lubang kecil selama masa inkubasi, dan berlanjut sampai anak mereka tumbuh menjadi burung muda. Apabila anak burung dan burung betina tidak lagi muat dalam sarang, burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut, dan kedua burung dewasa akan mencari makanan bagi anak-anak burung. Dalam sebagian spesies, anak-anak burung itu sendiri membangun kembali dinding yang pecah itu tanpa bantuan burung dewasa.

Coba kita bayangkan seandainya ketika burung betina mengerami telurnya, burung jantan mati tertembak oleh pemburu. Apa yang akan terjadi pada burung betina? Burung betina akan menunggu burung jantan sampai burung betina mati kelaparan. Betapa tragisnya kehidupan sijanda Enggang yang ditinggal oleh kekasihnya.

Terkadang kita harus berguru kepada hewan, pada makhluk tuhan yang katanya tak berakal. Sangat banyak kasus perceraian, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi. Hal tersebut adalah suatu fakta yang membuktikan bahwa kita tidak jauh lebih baik dari burung Enggang. Yah.. burung Enggang memang bisa menjadi salah satu referensi untuk belajar menjadi pasangan yang setia.
Sumber: google.com
Pondok Kehidupan, 14 Oktober 2012

::Belajar dari KUPU-KUPU::

Kupu-kupu tidak langsung memiliki sayap dengan corak indah dan warna yang beraneka merah, hitam, kuning, dan sebagainya. Kupu-kupu juga tidak langsung menjadi binatang yang menawan dan menjadikan bunga yang dihinggapinya terlihat lebih indah. Tahukah anda bahwa seekor kupu-kupu mengawali perjalanannya dari seekor ulat, yang tidak semua orang menyukainya. Kemudian dari seekor ulat itu, kupu-kupu berubah menjadi sebuah kepompong yang tak jarang pula orang yang menghiraukannya dan itu untuk waktu yang tidak sebentar. Tentunya kita tahu seperti apa bentuk kepompong? dan pastinya kita semua sudah tahu bahwa tidak ada kempompong yang cantik dan indah bukan?

Begitulah perjalanan singkat seekor kupu-kupu yang pada akhirnya kemudian sampailah ia pada kesuksesannya menjadi seekor kupu-kupu yang menawan dengan sayap beraneka warna yang penuh dengan keindahan. Jika kita mau cermati, sungguh sangat menakjubkan perjuangan seekor kupu-kupu dalam mencapai kesuksesannya. Selama dalam perjalanan panjangnya ternyata tidak pernah kupu-kupu protes dan menangis, mengeluh bahkan putus asa. Kupu-kupu tidak pernah merasa sedih karena lantaran diciptakan dari seekor ulat dan kepompong. Ia tidak pernah merasa kecewa dan kesal, tidak pernah juga ia merasa sial dengan jalan yang berikan Tuhan, meskipun tak banyak yang memperdulikan karena perjalanannya yang berawal dari seekor ulat dan kepompong. Kupu-kupu terima jalan yang Tuhan berikan karena kupu-kupu yakin bahwa di penghujung perjalanan yang tidak mengenakkan tadi akan ada kesuksesan, keindahan, dan kebahagian. Begitulah kehidupan.

Sumber: google.com
Pondok Kehidupan, 09 Oktober 2012

::Belajar dari Burung Hantu::

Seekor burung hantu yang bijaksana hinggap di sebatang dahan.Ketika semakin banyak ia melihat, maka semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia berbicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak seperti burung hantu yang bijaksana itu?,. Karakter burung hantu salah satunya adalah ia bijaksana, ia jarang berkicau, hanya kebanyakan diam dan melihat.
Belaja
rlah sifat dari burung hantu, sedikit untuk berbicara dan banyak mendengar. Selain itu ia juga di kenal setia karena hanya sekali kawin, luar biasa ya seekor burung hantu yang bisa dikatakan namanya seram namun di balik itu semua ia memiliki sifat yang begitu banyak positif.
Karakter yang lain adalah penyendiri, meski kadang ada juga yang suka berkelompok. Namun kebanyakan burung hantu ini suka menyendiri. Burung hantu juga hanya suka berdiam seperti patung tidak banyak tingkah, berbeda dengan burung yang lain yang suka memamerkan dirinya, inilah burung yang rendah hati si burung hantu.
Sumber: google.com
Pondok Kehidupan, 07 Oktober 2012

::Belajarlah dari Sandal::

Sandal tidak akan meminta imbalan atas jasa pemakaiannya. Ia tidak kecewa jika sang pemilik sandal melangkahkannya ke dalam kubangan lumpur yang penuh dengan kotoran. Tapi kita kadang melupakan sesuatu yang kecil karena sesuatu yang kecil tidak akan pernah berpengaruh untuk kita.
Saat kaki kita melangkah dan tak sengaja menginjak kotoran anjing maka sandal akan melindun
gi kita dari kotoran anjing. Pada saat kita berjalan didaerah yang banyak terdapat paku maka kita akan terlindungi dari cedera yang akan ditimbulkan oleh paku. Pada saat kita menginjak aspal pada saat terik matahari maka kaki kita akan terhindar dari panas yang membara yang disebabkan oleh panasnya aspal. pada saat kita berjalan di jalan yang basah walaupun sedikit tapi kaki kita terlindungi dari kotoran lumpur dan sebagainnya. Mungkin juga pada saat kita berjalan dijalan sehari-hari banyak kuman yang tertangkis oleh sandal yang kita pakai.
Itulah sekelumit tugas dari barang yang mungkin kita anggap sepele, Kita menginjak-injak hingga lambat laun sandal yang kita pakai menjadi tipis. Tanpa sadari kita terbantu karena sandal. Sekilas sandal yang kita pakai tidak ada harganya tetapi begitu penting sekali buat kita.


Sumber: google.com
Pondok Kehidupan, 07 Oktober 2012

::Belajar dari Filosofi Lilin::

Selama ini sebagian besar orang memahami lilin sebagai simbol filosofi hidup yang sia-sia. Hanya bisa menerangi sementara dirinya sendiri hancur. Lalu muncul statement jangan hidup seperti lilin. Aku mungkin salah satu dari sebagian kecil orang yang mencoba memahami filosofi lilin dengan perspektif yang berbeda. Lilin, ketika dirinya sendiri meleleh habis terbakar.
Setelah memancarkan cahaya menerangi kegelapan, sesungguhnya apa yang terjadi bukanlah suatu kehancuran. Melelehnya lilin itu pada hakikatnya adalah simbolisasi penyatuan jatidiri dengan pancaran cahaya yang keluar dari api yang membakar dirinya sendiri, itulah yang disebut sebagai puncak dari suatu hikmat pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Hanya mereka yang mau berkorban dengan tulus tanpa pamrih seperti lilin yang akan berhasil mencapai puncak kesadaran kosmik (pencerahan), suatu konsepsi kesadaran yang dibutuhkan sebagai tiket menuju puncak kebahagiaan yang dicita-citakan oleh semua ummat manusia dan bangsa-bangsa di dunia. Manusia dalam kondisi kesadaran seperti inilah yang tercerahkan dan mampu mencerahkan kehidupan. Menjadi pemimpin yang adil, pejabat yang taat hukum dan tidak korupsi, ayah yang bijak, ibu yang penuh cinta dan kasih, anak yang sholeh dan hormat pada orang tua, murid yang santun, dan seterusnya. Belajarlah hidup seperti lilin, menerangi kegelapan dan berkorban dengan tulus tanpa pamrih.


Sumber: google.com
Pondok Kehidupan, 07 Oktober 2012