Malam ini, giliran kafe kecil pojokan jalan itu yang menjadi saksi kerinduan kita.
Secangkir kopi pun turut menghangatkan dinginnya malam.
Kebodohan melanda, dan membuat kami saling terdiam memandang satu sama lain.
Entah apa namanya perasaan ini. Saat waktunya berpisah, begitu sangat berat untuk saling melepaskan genggaman. ♡♥♡
Kepadamu selalu kukirimkan rindu yang teramat sangat sembari
mengantarkan mimpi indahmu, mimpi indahku, mimpi indah kita malam ini
♬♪::>_<::
Pontianak, 02 November 2013
3 November 2013
Dalam Peraduan (2)
♡♥♡ Sekali lagi, sungai tua itu menjadi saksi pertemuan kita malam ini.
Teduh dan sangat romantis.
Walaupun aku tidak ngopi malam ini, tapi sedikitpun tak merubah kerinduanku padamu.
Rasanya sakit rinduku yang teramat sangat ini tak bisa terobati dengan apapun. Ingin selalu bersamamu dan terus bersamamu ☆ミ ☆彡
Pontianak, 01 November 2013
Teduh dan sangat romantis.
Walaupun aku tidak ngopi malam ini, tapi sedikitpun tak merubah kerinduanku padamu.
Rasanya sakit rinduku yang teramat sangat ini tak bisa terobati dengan apapun. Ingin selalu bersamamu dan terus bersamamu ☆ミ ☆彡
Pontianak, 01 November 2013
29 Oktober 2013
Pilihan Hati
Haruskah aku menangis
Atau justru tertawa lepas
Tuk mengenang semua itu
Jatuh bangun yang tak pernah sedikitpun dihargai
Dan harur terhenti begitu saja
Aku katakan kini aku sangat bahagia
Walaupun air mata ini terus mengalir
Sudahlah
Semua ini pilihan
Dan tak ada yang sempurna
Pontianak, 21 Oktober 2013
Atau justru tertawa lepas
Tuk mengenang semua itu
Jatuh bangun yang tak pernah sedikitpun dihargai
Dan harur terhenti begitu saja
Aku katakan kini aku sangat bahagia
Walaupun air mata ini terus mengalir
Sudahlah
Semua ini pilihan
Dan tak ada yang sempurna
Pontianak, 21 Oktober 2013
Kenangan Pare
Saat kebimbangan itu datang, aku menemukan gubuk tua
Dimana kau dan aku saling bertemu
Tidak begitu besar
Namun cukup menampung semua keakraban dengan apik
Di satu sudut ruangan itu kita berbagi
Suka duka, tangis bahagia
Di satu sudut itu pun kita menyatu bak bahtera keluarga
Akrab tak terpisahkan
Sayang, itu bukanlah suatu keabadian
Saat tiba waktunya
Kau dan aku harus berpisah
Satu per satu meninggalkan gubuk tua itu
Menyiasati nasib diri masing-masing
Tak tahu apakah akan kembali seperti dulu lagi
Kenangan itupun berbunga rindu
Bunga yang takkan pernah layu
Selama kita masih terus memupuknya, kawan
Pontianak, 20 Oktober 2013
Dimana kau dan aku saling bertemu
Tidak begitu besar
Namun cukup menampung semua keakraban dengan apik
Di satu sudut ruangan itu kita berbagi
Suka duka, tangis bahagia
Di satu sudut itu pun kita menyatu bak bahtera keluarga
Akrab tak terpisahkan
Sayang, itu bukanlah suatu keabadian
Saat tiba waktunya
Kau dan aku harus berpisah
Satu per satu meninggalkan gubuk tua itu
Menyiasati nasib diri masing-masing
Tak tahu apakah akan kembali seperti dulu lagi
Kenangan itupun berbunga rindu
Bunga yang takkan pernah layu
Selama kita masih terus memupuknya, kawan
Pontianak, 20 Oktober 2013
Dalam Peraduan (1)
Di tepian sungai tua
Duduk ku menatap seluas pandangan mata
Tersuguhkan segelas es kopi
Berdua dengannya tak ingin segera usai
Bercengkerama tersenyum manja
Hingga senja pun tiba
Lantunan merdu AsmaNya dari seberang sana
Mesjid Istana bersejarah menjadi saksi pertemuan kala itu
Aku dengannya akankah menyatu ?
Pontianak, 13 Oktober 2013
Duduk ku menatap seluas pandangan mata
Tersuguhkan segelas es kopi
Berdua dengannya tak ingin segera usai
Bercengkerama tersenyum manja
Hingga senja pun tiba
Lantunan merdu AsmaNya dari seberang sana
Mesjid Istana bersejarah menjadi saksi pertemuan kala itu
Aku dengannya akankah menyatu ?
Pontianak, 13 Oktober 2013
Malam Terakhir Kota gudeg
Jogja kala itu tampak cerah
Aku baru saja tiba, setelah menempuh perjalanan panjang dari arah timur pulau jawa
Berdua dengannya, seorang sahabat dari Jakarta
Lelah kita terhapuskan kala kelompok seniman tatto membaur di Malioboro
Di atas tebing pinggiran Parangtritis, habiskan terangnya kota
Terperangkap dalam ruang kosong milik seorang teman dari Jawa
Rehat menunggu matahari datang
Kembali menghampiri dan berbaur
Hingga matahari benar-benar terbenam, kami pun berpisah
Tinggallah ku sendiri merangkak di bawah terangnya neon
Gudeg, malioboro, angkringan, pengamen, sahabat
Jogja, kapan kita kembali bersua
Pondok Kehidupan, 07 Juli 2013
Aku baru saja tiba, setelah menempuh perjalanan panjang dari arah timur pulau jawa
Berdua dengannya, seorang sahabat dari Jakarta
Lelah kita terhapuskan kala kelompok seniman tatto membaur di Malioboro
Di atas tebing pinggiran Parangtritis, habiskan terangnya kota
Terperangkap dalam ruang kosong milik seorang teman dari Jawa
Rehat menunggu matahari datang
Kembali menghampiri dan berbaur
Hingga matahari benar-benar terbenam, kami pun berpisah
Tinggallah ku sendiri merangkak di bawah terangnya neon
Gudeg, malioboro, angkringan, pengamen, sahabat
Jogja, kapan kita kembali bersua
Pondok Kehidupan, 07 Juli 2013
Langganan:
Postingan (Atom)