17 Oktober 2012

::Belajar dari Filosofi Lilin::

Selama ini sebagian besar orang memahami lilin sebagai simbol filosofi hidup yang sia-sia. Hanya bisa menerangi sementara dirinya sendiri hancur. Lalu muncul statement jangan hidup seperti lilin. Aku mungkin salah satu dari sebagian kecil orang yang mencoba memahami filosofi lilin dengan perspektif yang berbeda. Lilin, ketika dirinya sendiri meleleh habis terbakar.
Setelah memancarkan cahaya menerangi kegelapan, sesungguhnya apa yang terjadi bukanlah suatu kehancuran. Melelehnya lilin itu pada hakikatnya adalah simbolisasi penyatuan jatidiri dengan pancaran cahaya yang keluar dari api yang membakar dirinya sendiri, itulah yang disebut sebagai puncak dari suatu hikmat pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Hanya mereka yang mau berkorban dengan tulus tanpa pamrih seperti lilin yang akan berhasil mencapai puncak kesadaran kosmik (pencerahan), suatu konsepsi kesadaran yang dibutuhkan sebagai tiket menuju puncak kebahagiaan yang dicita-citakan oleh semua ummat manusia dan bangsa-bangsa di dunia. Manusia dalam kondisi kesadaran seperti inilah yang tercerahkan dan mampu mencerahkan kehidupan. Menjadi pemimpin yang adil, pejabat yang taat hukum dan tidak korupsi, ayah yang bijak, ibu yang penuh cinta dan kasih, anak yang sholeh dan hormat pada orang tua, murid yang santun, dan seterusnya. Belajarlah hidup seperti lilin, menerangi kegelapan dan berkorban dengan tulus tanpa pamrih.


Sumber: google.com
Pondok Kehidupan, 07 Oktober 2012

18 September 2012

Biru kujunjung, Biru kuarung

Tepat 30 hari rehatku di kampung halaman
Tiba saatnya ku harus kembali ke pondok kehidupanku
Pondok yang memberiku inspirasi
Pondok yang mengajariku arti kehidupan

Mentari itu begitu menyangat
Ku harus menunggu waktunya
Masuki geladak berbaris dengan yang lain
Mencari tempat yang tepat

Kunaiki anjungan tertinggi
Tatapku tajam syarat akan rindu kotaku
Sirine pertanda kapal segera berlayar
Perlahan menjauh lalu menghilang meninggalkan kotaku


Tak banyak yang dapat kulihat
Hanya biru, biru, dan biru
Biru kujunjung, biru kuarung
Begitu yang tejadi selama 2 hari

Hingga pada saatnya kami temukan daratan
Bergegas mempersiapkan diri
Menuruni anjungan, keluar dari geladak
Menghirup nafas panjang

Selamat datang kembali di Semarang

Pondok Kehidupan, 09 September 2012

6 September 2012

Rehat

Saatnya pejamkan mata
Dan larut dalam keheningan
Kedamaian hati kala menyambut fajar pagi
Resapi hadirmu yang menginjak satu sisi hatiku

Pondok Kehidupan, 06 September 2012

Pagi

Indah langitMu
Binarkan inderaku
Sejukkan hatiku
Damaikan jiwaku
Syahdu kumeresapimu

Pondok Kehidupan, 04 Agustus 2012

Nelangsa

Walaupun berujung pahit
Kenangan itu slalu teringat
Telah kuhapus semuanya
Namun, ia kerap kembali


Pondok Kehidupan, 25 Juni 2012

4 September 2012

61 Hari

61 hari sudah, aku tak melihatnya
61 hari sudah, aku tak menyentuhnya
61 hari sudah, aku tak menghiraukannya
61 hari sudah, aku melupakannya

Bukan karena ku buta
Bukan karena ku hilang rasa
Bukan karena ku tak perduli
Bukan karena ku melupakanmu

Hanyalah segelintir kesibukan yang mengkhilafkan

Pondok Kehidupan, 04 September 2012